LANGKAH KELIMA
Adab sebagai Ruh Tariqat
Adab adalah tata krama ruhani dan kesantunan batin yang lahir dari keikhlasan. Keikhlasan melahirkan kerendahan hati, dan kerendahan hati meniadakan keinginan untuk menampakkan diri. Sebab tatkala seseorang menyadari kesantunannya sendiri, keakuan telah ikut bekerja, dan ketika keakuan hadir, keikhlasan pun menghilang. Maka adab yang sejati tidak disadari oleh pelakunya, tetapi dirasakan oleh sekitarnya.
Adab hampir tak memiliki tempat di dunia lahir yang dipenuhi tuntutan dan persaingan. Dunia mengenal tata krama sosial, tetapi adab hanya hidup di jalan para sufi. Barang siapa memasuki lingkungan ahli suluk yang terpelihara, sesungguhnya ia telah masuk ke dalam arena amanah. Sejak saat itu ia dituntut untuk beradab, yakni menyudutkan keakuan, merendahkan kehendak diri, dan menjaga batin, terutama ketika berada di dalam zawiya, di lingkaran majelis, di antara para Rijal Allah, dan di hadapan Syekh. Itulah medan adab yang sejati.
Ketahuilah bahwa seluruh Tariqat adalah adab. Tidak ada langkah dalam perjalanan ruhani yang terlepas darinya. Ada adab kepada orang asing dan tamu, ada adab kepada para fakir, ada adab kepada mereka yang dimuliakan Allah, dan ada adab kepada Syekh sebagai penunjuk jalan. Namun puncak adab adalah adab kepada diri sendiri, yakni menjaga hati agar tidak melampaui batasnya.
Adab kepada sesama dimulai dengan kedermawanan dan pemberian, baik saat datang maupun saat pergi. Ia disempurnakan dengan pengutamaan, yaitu mendahulukan saudara daripada diri sendiri dalam apa pun yang dimiliki. Selanjutnya adab ditegakkan melalui pelayanan, kesediaan menunggu, kesabaran, dan kemampuan mendengarkan tanpa membantah. Tingkatan berikutnya adalah menyelaraskan kehendak diri dengan kehendak Syekh, seakan apa yang diinginkannya adalah keinginan diri sendiri, tanpa paksaan dan tanpa pamrih.
Pada tahap awal, adab dijaga dengan menahan gerak dan ucapan, menghindari kekasaran, isyarat berlebihan, dan suara yang meninggi. Pada tahap pertengahan, adab dijaga dengan keseimbangan batin, tidak larut dalam kegembiraan dan tidak tenggelam dalam kesedihan. Pada tahap akhir, adab menjadi lupa terhadap semua bentuk, sebab sukacita telah hadir di hadirat Al-Haqq, dan diri pun lenyap dalam penyaksian.
Barang siapa memelihara adab, niscaya dibukakan baginya pintu makrifat. Sebab adab bukan sekadar perhiasan jalan, melainkan ruh yang menghidupkan seluruh perjalanan menuju Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar