LANGKAH KEEMPAT
Haqiqat dan Kematian Maknawi
Haqiqat adalah kebenaran yang dialami, bukan sekadar diketahui. Ia merupakan pencerahan ilmu batin yang memenuhi hati sang Pencari hingga tak tersisa ruang bagi selain Yang Nyata. Haqiqat tidak dicapai dengan penalaran semata, melainkan dengan kesiapan batin untuk menyaksikan.
Tariqat adalah medan makna, sedangkan Syari’at adalah medan indera. Syari’at menata amal lahiriah dan menjaga gerak jasad, sementara Tariqat menata kesadaran dan memurnikan gerak batin. Keduanya tidak bertentangan, melainkan saling menyiapkan. Tidak mungkin seseorang memahami Tariqat tanpa berserah diri kepada kenyataan bahwa dirinya adalah insan fana, makhluk ciptaan yang berjalan dalam waktu.
Setelah menegakkan Syari’at dengan istiqamah, sang Pencari menyadari asal-usulnya dari ketiadaan dan perjalanannya menuju ketiadaan. Kesadaran ini melahirkan kewaspadaan terhadap waktu, sebab umur bukan ruang penundaan, melainkan kesempatan yang harus ditembus dengan amal. Dunia disadari sebagai panggung sementara yang tidak mampu memuaskan dahaga jiwa, dan masa kini dipahami bukan sebagai arena penyaksian, melainkan sebagai ladang perbuatan.
Penyaksian disimpan bagi alam selanjutnya, setelah kematian. Namun untuk sampai ke sana, seorang Pencari harus lebih dahulu mengalami kematian maknawi, yakni kematian keakuan sebelum kematian jasmani. Inilah makna sabda Nabi ﷺ, “Matilah sebelum engkau mati,” yang bukan seruan untuk meninggalkan kehidupan, melainkan perintah untuk menanggalkan kepalsuan diri dan menghidupkan kesadaran ruhani.
Derajat insan paripurna tidak tercapai tanpa kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan istiqamah. Kemuliaan ini bukan tujuan pencarian, melainkan tanda dibukakannya jalan. Karomah adalah jalannya, sedangkan penyaksian dan pencerahan adalah buahnya. Semua itu hanya terungkap bagi hati yang telah mati dari keakuan dan hidup dalam kepasrahan.
Barang siapa menghendaki Haqiqat, hendaklah ia berdamai dengan dirinya sendiri. Sejak saat itu, hidupnya tidak akan kembali seperti semula. Sebab manusia berada dalam keadaan tidur, dan dengan kematian ia terjaga. Terjaga inilah Haqiqat, dan kesadaran ini bernama Ihsan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar