LANGKAH KEENAM
Istiqamah dan Cahaya Keteguhan
Istiqamah adalah keteguhan yang lurus, bukan keras, dan bukan pula kaku. Ia adalah kesetiaan jiwa untuk menapaki jalan Rasulullah ﷺ dalam kata, laku, dan hal-ahwal, sejauh ilmu mengenainya dan sejauh kemampuan diri mengikutinya. Tidak seorang pun mampu mencapai derajat ma‘rifat dan kecemerlangan beliau, namun diwajibkan atas setiap pencari untuk mengikuti debu-debu jejak langkahnya. Sebab keselamatan tidak terletak pada ketinggian pencapaian, melainkan pada keteguhan mengikuti.
Al-Junaid al-Baghdadi berkata:
“Jalan kami ini terikat dengan Kitab dan Sunnah. Barang siapa tidak menghafal Al-Qur’an dan tidak menulis hadis, maka ia tidak layak diikuti dalam jalan ini.”
Istiqamah bukan sekadar konsistensi lahiriah, melainkan kemampuan menyerap sifat-sifat ketaatan. Ia tumbuh dari mereka yang menjaga kewajiban-kewajiban: saat berwudhu dan menegakkan shalat, saat berpuasa dan bersedekah, saat duduk di majelis para ulama, ketika mengunjungi Baitullah, menziarahi pusara Rasulullah ﷺ, dan berdiam di Rawdah yang diberkahi. Dalam perbuatan-perbuatan itu, mereka menyerap nuansa ketaatan kolektif, dan dari nuansa itulah cahaya meresap perlahan ke dalam diri, hingga tulang-belulang pun seakan ikut bercahaya. Sebab cahaya tidak hanya menyentuh hati, tetapi meresapi seluruh keberadaan.
Abu Yazid al-Busthami berkata:
“Aku melihat banyak karamah, tetapi aku tidak tertarik. Aku hanya tertarik pada istiqamah.”
Secara lahiriah, kumpulan orang-orang istiqamah bisa tampak sempit, sederhana, bahkan terbatas. Namun batin mereka lapang, luas tanpa tepi. Sebaliknya, ahli dunia tampak bebas dan luas dalam geraknya, tetapi batin mereka sesak oleh keinginan yang tak pernah selesai. Keluasan yang tidak disertai istiqamah hanyalah ilusi, sedangkan keterbatasan yang dipeluk dengan istiqamah adalah kemerdekaan sejati.
Istiqamah menjadikan kondisi lahiriah seseorang tampak biasa, bahkan seolah gelap dari pandangan dunia. Namun batinnya terang benderang. Sedangkan mereka yang mengejar kebebasan tanpa batas tampak bercahaya di luar, tetapi batinnya gelap dan tercerai. Inilah perbedaan antara cahaya yang datang dari dalam dan kilau yang hanya memantul dari luar.
Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari berkata:
“Tiada karamah yang lebih besar daripada istiqamah.”
Buah istiqamah adalah ketenangan. Jiwa menjadi waras, pandangan menjadi jernih, dan langkah menjadi ringan. Adapun buah perilaku tanpa batas adalah kengerian: kegelisahan yang tak bertepi dan kegilaan yang tersembunyi di balik kebebasan. Yang satu menuntun kepada keseimbangan, yang lain menyeret kepada kehancuran.
Maka ketahuilah, istiqamah bukanlah jalan yang ramai oleh kekaguman, tetapi jalan sunyi yang melahirkan keselamatan. Barang siapa teguh di atasnya, meski langkahnya kecil, niscaya ia sampai dengan selamat. Sebab di sisi Allah, keteguhan yang sederhana lebih dicintai daripada lonjakan yang gemilang namun rapuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar