Sabtu, 03 Januari 2026

LANGKAH KETUJUH I Suluk dan Penjagaan Jiwa di Tengah Tarikan Ilahi

 

Suluk dan Penjagaan Jiwa di Tengah Tarikan Ilahi

Suluk adalah ilmu tentang peta batin perjalanan menuju Allah. Ia bukan sekadar langkah kaki, melainkan tata kelola hati ketika cinta bangkit, kerinduan mengamuk, dan diri makhluk diterpa angin hasrat serta badai keterpautan. Si salik adalah ia yang teguh berdiri di atas hikmah yang diperlukan baginya, agar tidak tergelincir ke dalam kegilaan ketika hatinya mulai bergerak dan rahasia cinta Ilahi mulai menyingkapkan wajahnya.

Ketika dunia dan seluruh isinya berubah menjadi ujian dan siksaan bagi pencari, suluk hadir sebagai penjaga. Ia memelihara penempuh dengan hikmah dan keseimbangan, sehingga bila ia tercebur ke dalam samudra tarikan Ilahi, ia mampu mengapung dengan pengendalian, dan ketika godaan menariknya ke jurang, keberanian untuk berpaling tumbuh dari kesadaran yang terlatih.

Abu al-Qasim al-Junaid berkata:

“Suluk kami ini dibangun di atas kewarasan. Barang siapa kehilangan akal sehatnya, maka ia bukan dari jalan kami.”

Suluk adalah sarana agar seorang hamba memperoleh manfaat jadhb tanpa harus menjadi majdub. Ia memungkinkan keterpikatan yang benar berlangsung, namun mencegah keterpikatan yang merusak. Dengan suluk, seorang pencari dapat merasakan rahasia maqam tanpa terperangkap di dalamnya, dan mengalami limpahan tanpa terikat oleh klaim.

Inilah sebabnya jalan para arifin disebut jalan salik sekaligus majdub: lahiriahnya waras, batiniahnya mabuk dalam Allah. Lahirnya sadar menjaga batas, batinnya tenggelam dalam kehadiran. Sebab kegilaan yang tidak dijaga adalah kehancuran, sedangkan kegilaan yang dibingkai suluk adalah cahaya.

Abu Yazid al-Busthami berkata:

“Jika engkau melihat seseorang terbang di udara, jangan tertipu hingga engkau melihat bagaimana ia berdiri di batas-batas syariat.”

Suluk, pada lahiriahnya, adalah penggantian: kata buruk diganti kata baik, laku buruk diganti laku benar, niat yang keruh disucikan menjadi niat yang jujur. Dengan itu, seseorang hidup dalam keselarasan niat, ucapan, dan perbuatan. Tanda lahiriah seorang salik adalah manusia lain selamat dari tangan dan lisannya. Adapun tanda batiniahnya, ia diselamatkan dari tangan dan lisannya sendiri.

Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari berkata:

“Suluk yang benar adalah ketika engkau menjaga dirimu sebelum engkau menuntut penjagaan dari Allah.”

Suluk membantu seseorang menyerap hikmah maqamnya tanpa berhenti padanya. Ia mengambil manfaat dari ajaran maqam, lalu melangkah pergi dengan harap akan karunia tambahan dari Rabb Yang Maha Pemurah. Sebab maqam bukan tempat menetap, melainkan titian untuk menyeberang.

Batas suluk adalah kembali kepada ikrar kehambaan dan menjauhi klaim. Sebab setiap klaim adalah hijab, kecuali bila klaim itu diucapkan oleh Al-Haqq sendiri melalui diri hamba. Maka selama lidah masih milikmu, diamlah. Dan bila Al-Haqq yang berbicara, lenyaplah.

Al-Hallaj berkata:

“Aku tidak sampai karena aku berjalan, tetapi karena Dia menarikku. Namun andai aku tidak berjalan, tarikan itu akan mencabikku.”

Demikianlah suluk: berjalan dengan sadar di bumi, sambil ditarik oleh langit; menjaga batas di lahir, sambil tenggelam di batin; waras dalam pandangan makhluk, mabuk dalam hadirat Al-Haqq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar